Pembukaan lahan hutan belum bawa kesejahteraan bagi warga kampong
Pembukaan hutan untuk investasi untuk perkebunan dan pengolahan kayu di papua belum membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Kegiatan itu dinilai lebih banyak menimbulkan degradasi masyarakat dan adat.
Yang jelas, warga dipedalaman kesulitan mendapatkan makanan dan obat karena hutan di buka. Hal ini mengemuka dalam paparan periset Forum Kerja Sama LSM papua, dalam kongres kehutanan I Foker di jayapura,papua. Paparan disampaikan tujuh periset yang meneliti wilayah besar adat papua, yaitu Mamta, Ha Anim, Momberai, Mee Pago, dan Saireri yang meliputi kabupaten Marauke, Boven Digul, Mappi, Teluk Bintuni, Teluk Wondama, dan lain-lain.
Pemahaman adat ini mulai bergeser ketika masyarakat di kampong melihat bahwa hutan/tanah bernilai ekonomi. Dampaknya, masyarakat terlibat konflik antara warga dalam menentukan batas kepemilikan hutan dan kehilangan identitas warga.
Masuknya berbagai perusahaan kayu yang menawarkan iming-iming uang melimpah membuat masyarakat menyerahkan hutannya untuk di tebang. Sayangnya, masyarakat tidak dapat mengelola uang ketika harus mengubah kehidupan tradisional menjadi kehidupan modern yang serba membutuhkan uang.
Pembukaan kebun kelapa sawit menyebabkan masyarakat kehilangan hutan sagu tempat mencari makanan pokokdan berbagai satwa buruan. Kabupaten Keerom seluas 936.500 hektar memiliki 9300 hektar perkebunan kelapa sawit, artinya terbesar di papua.
Kekhawatiran atas dampak pembukaan hutan untuk kelapa sawit di tuturkan periset Jago Bukit yang mengkaji wilayah adapt Ha Anim atau kabupaten Marauke dan sekitarnya. Sebuah perusahaan besar akan membuka perkebunan kelapa sawit seluas 176.000 hektar di Distrik Edera, Mappi. Di sisi lain, pemilik hak ulayat suku auwyu memiliki pengalaman dengan perkebunan karet sejak zaman Belanda. Pemerintah diharapkan memberikan kebebasan warga untuk memilih program yang sesuai. Jayapura, Kompas tanggal 21 november 2009.
DPRD DKI Jakarta meminta pemerintah provinsi focus dalam membangun rumah susun sederhana sewa didekat sungai. Rumah susun diperlukan untuk memindahkan penduduk yang tinggal dibantaran sungai.
“Tahun depan pemerintah mengeruk dan menormalisasi 13 sungai utama dijakarta. Langkah itu sulit di lakukan jika tidak memindahkan warga yang tinggal di bantaran sungai”, kata ketua fraksi PKS DPRD DKI nurmansjah lubis.
Menurut nurmansjah pemprov seharusnya sudah menentukan lokasi pembangunan rumah susun (rusun) untuk merelokasi warga. Selain itu, target pembangunan dan dananya harus sudah diajukan.
Jika tidak ada rusun, warga di tepi sungai akan menolak proyek pengerukan dan normalisasi sungai. Penolakan akan menjadi penghambat yang sangat serius dalam proyek penanganan banjir.
Sampai saat ini, kata nurmansjah pemprov baru menganggarkan dana Rp 68 miliar untukpembangunan rusun di waduk pluit guna relokasi. “Tidak ada alokasi anggaran pembangunan rusun untuk merelokasi warga bantaran sungai lain” katanya.
Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan, pembangunan rusun sederhana sewa diperlukan untuk merelokasi warga di bantaran sungai. Selain mengganggu proses pengerukan, keberadaan mereka mempercepat pendangkalan dan penyempitan sungai.
Sebanyak 70.000 unit rusun perlu dibangun untuk menampung semua warga di bantaran sungai. Namun, Fauzi belum menentukan lokasi yang dipilih untuk pembangunan dan target penyelesaian rusun itu. “Pembangunan rusun tanggung jawab pemprov dan pemerintah pusat” kata Fauzi seusai meninjau sungai ciliwung kemarin.
Dua penelitian memperkuat bukti bahwa morfin atau obat penghilang rasa sakit mengandung candu lainnya yang dapat menyebabkan pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Hasil penelitian itu akan dipresentasikan dalam sebuah konferensi kanker internasional di Bosten, Amerika Serikat. Penelitian itu juga mendemonstrasikan cara mencegah zat candu agar tidak mencapai sel kanker paru-paru serta mengurangi perkembangbiakan, invasi, dan migrasi sel kanker.Tes terhadap kultur sel dan tikus memperlihatkan reseptor zat adiktif (tempat morfin bekerja dalam tubuh) mungkin menwarkan target pengobatan yang potensial. “Penelitian ini dapat mengubah cara dokter melakukan anestesi terhadap pasien kanker” ujar Patrick A Singleton, asisten professor kedokteran di Universitas Chicago dan penulis utama studi tersebut. Morfin dapat mendorong perkembangbiakan sel kanker, menghambat sel imun, dan mendorong pertumbuhan pembuluh darah baru. Para peneliti juga menemukan methylnaltrexone mengurangi perkembangbiakan sel kanker pada tikus sekitar 90 %. (HEALTHDAY NEWS/INE).
Potensi panas yang ada di luar jawa, misalnya di Sulawesi Utara mencapai 1.700 MW, tetapi sekarang baru di manfaatkan sekitar 60 MW atau 3,5 %. Pemanfaatan energi terbarukan panas bumi ini terkendala faktor non-teknis.
“Soal investasi dengan panas bumi tidak ada masalah tetapi permasalahannya terletak pada pembahasan yang melibatkan pemerintah pusata yang kaku,birokratis dan tak realistis” kata pak gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang, Kamis malam di Jakarta.
Kompas dan bank pembangunan asia (ADB) sebelumnya mendatangi pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong II. ADB menyalurkan pinjaman sebesar 30jt $ untuk PLTP Lahendong II di Desa Tontangdow kecamatan tomohon selatan kota tomohon. Pembangkit tersebut mulai beroperasi pada tanggal 17 Juni 2007.
Di wilayah Sulut dan daerah sekitarnya kini terjadi pemadamn listrik bergilir, 4-7 jam tiap hari. GM PT PLN Wilayah Sulut, Sulteng, dan Gorontalo Dadan Koerniadipoera menyatakan, per juli 2009 ada 38.217calon pelanggan butuh kapasitas 125 MW.
Menurut Sarundajang potensi panas bumi untuk skala besar harus bias di prioritaskan. “Kalau pertamina dan PLN tidak memiliki investasi untuk pengeboran dan pembangkit, seharusnya diberikan kepada pihak lain atau swasta” kata Sarundajang.
Harga produksi Listrik dari PLTP Lahendong Rp 399 per kilowatt jam ( kWh ), Menurut manajer PLTP Lahendong PT PLN Djoni Kalalo. Tarif dasar ke pelanggan Rp 640 per kWh. Saat ini TDL PLN golongan tarif R-1 blok III (pemakaian di atas 60 kWh). Besarnya Rp 495 per kWh. Jakarta, Kompas tanggal 21 November 2009
Ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan, budaya bangsa merupakan tiga unsur yang sangat erat hubungannya dalam peradaban manusia yang tinggal di planet bumi. Kondisi adaptasi terhadap lingkungan bagi pijakan manusia telah melahirkan pengetahuan dan cara atau teknologi yang tepat guna untuk kesinambungan kehidupan dimuka bumi. Lingkungan tempat seluruh kehidupan makhluk hidup dimuka planet bumi merupakan kondisi awal yang kemudian akan memberi tantangan bagi para penghuni untuk beradaptasi yang kemudian berlanjut dengan perkembangan perilakunya.
Adaptasi yang telah berlangsung sejak manusia pertama ada dan berlanjut secara turun temurun dengan kenaikan jumlah penghuni yang makin lama makin menyebar, makin pula memberi peluang munculnya pemikiran adaptasi dalam kelangsungan hidup. Kondisi adaptasi terhadap lingkungan bagi pijakan manusia telah melahirkan pengetahuan dan cara atau teknologi yang tepat guna untuk kesinambungan kehidupan di muka bumi.Konsep dasar pemikiran munculnya pengetahuan dan teknologi ini, berdasarkan pada kenyataan bahwa kondisi lingkungan menjadikan dasar bagi munculnya iptek dan budaya/perilaku dalam adaptasi dan kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dipelajari dari kondisi lingkungan yang kerapatan penghuninya yang padat/rapat dengan munculnya tantangan dari alam yang sering memberikan bencana seperti yang umumnya terjadi dikawasan daerah sub tropis. Sehingga kawasan sub tropis umumnya memberikan kontribusi yang cukup tinggi dalam peradaban dan budaya manusia dari jaman dulu hingga kini. Kenyataan sejarah membuktikan, bahwa manusia yang tinggal di kawasan sub tropis telah terlebih dahulu maju dari kawasan lainnya di bumi. Oleh karena itu, ekspansi dan perluasan kekuasaan umumnya dilakukan oleh para penghuni yang tinggal di kawasan tersebut dari dahulu hingga jaman modern di abad milinium ke tiga. Dari perkembangan yang sedang berlangsung, memberikan arah dan pandangan bahwa iptek dan budaya lahir dari kondisi lingkungan dan upaya adaptasi dalam menyikapi kondisi lingkungan alam dan sekitarnya.
Wilayah Indonesia yang secara geografis berada dikawasan tropis dengan lingkungan alam dan sekitarnya cukup bersahabat, kondisi perkembangan iptek awalnya tergantung dari perkembangan peradaban yang awalnya dijajah oleh bangsa lain yang umumnya berasal dari kawasan sub tropis, (Belanda, Inggris, Jepang dan Sekutu).
Kondisi awal yang umumnya kurang mendukung, masih terciptanya budaya dengan kemudahan dalam kehidupan dengan kejadian rendah terhadap bencana alam ini, telah memberikan perhatian dan kepedulian tentang penciptaan pengetahuan dan teknologi berjalan sesuai kondisi yang berkembang. Sehingga perkembangan iptek dari awal masih sangat tergantung pada perkembangan di tingkat global. Dari perjalanan Bangsa Indonesia sejak jaman kemerdekaan hingga kini, pengelolaan dan pembinaan iptek terkesan ketergantungan pada iptek manca negara, hingga landasan dasar iptek yang cocok dan sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia kurang mendapat perhatian dan dukungan.
Kondisi ini umumnya bersamaan dengan ekspansi dan budaya asing telah merebak dan berkembang pula di bumi pertiwi di Indonesia. Adanya upaya pemanfaatan iptek tanpa dilandasi dasar pengetahuan kuat yang berlangsung menjelang akhir abad 20, dengan catatan adopsi iptek dari manca negara, telah memberikan kondisi yang kurang berkembang sebagaimana mestinya. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan perkembangan kondisi lingkungan mungkin akan dapat dibangun dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi di bumi pertiwi yang berada di kawasan tropis.
Pembangunan landasan dasar ini mutlak diperlukan saat ini manakala pembangunan dasar yang kuat tersebut dilanjutkan dengan upaya untuk mengembangkan mekanisme yang sesuai dan cocok serta penyesuaian/adaptasi dengan iptek manca negara yang kian merebak.
Karena para ahli dan pemikir dengan kualifikasi pendidikan pasca sarjana dari manca negara, penyesuaian diri dengan pengarahan dan pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan merupakan bagian dari pembangunan dasar iptek yang mungkin akan dapat menahan ketergantungan iptek dari manca negara.
Kemudian pembenahan diri kedalam kaitan dengan sistem pemantauan, pengarsipan dan sosialisasi yang berjenjang dan berkelanjutan akan dapat memberi kontribusi tercapainya landasan iptek di Indonesia. Perkembangan yang telah terjadi dengan masuknya iptek dan budaya manca negara seyogyanya ditelusuri dan dikaji untuk diiringi dengan upaya penyelarasan dan sosialisasi meluas. Dengan adanya kondisi iptek yang tidak tentu arah dengan kondisi lingkungan yang telah berubah telah memberi kondisi yang kini berkembang dengan catatan adanya kecenderungan : Telah ada perlindungan atas produk asli Indonesia (patent produk tertentu), Bencana makin sering namun terlambat dan minim teknologi penanggulangan, Produk pangan (beras) mulai tergantung dari manca negara selebihnya masih tergantung impor, dan lainnya yang terkait.
Pembangunan landasan masyarakat akan iptek (capacity building development) yang berkelanjutan mungkin merupakan cara yang dapat dilakukan dalam rangka pengentasan kondisi yang makin menjerumuskan pada situasi dan kondisi yang kurang diharapkan oleh kita bangsa Indonesia. Kenyataannya, globalisasi IPTEK dan budaya telah berkembang dan berlangsung. Apakah kita akan berdiam diri atau berupaya agar tidak larut/tenggelam ?.
Kesemuanya ini ditengahkan dalam rangka penyadaran diri dalam pembangunan landasan dari IPTEK (base line) yang spesifik dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia dengan adat ke Timurannya. (Koran Jakarta, 29 April 2009 / Humasristek)
Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Banyak laporan PBB, yang terakhir adalah laporan dari KTT Dunia 2005, yang menjabarkan pembangunan berkelanjutan sebagai terdiri dari tiga tiang utama (ekonomi, sosial, dan lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat.
Untuk sebagian orang, pembangunan berkelanjutan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan bagaimana mencari jalan untuk memajukan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan modal alam. Namun untuk sebagian orang lain, konsep "pertumbuhan ekonomi" itu sendiri bermasalah, karena sumberdaya bumi itu sendiri terbatas.
Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.
Skema pembangunan berkelanjutan:pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa "...keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam". Dengan demikian "pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual". dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan Hijau pada umumnya dibedakan dari pembangunan bekelanjutan, dimana pembangunan Hijau lebih mengutamakan keberlanjutan lingkungan di atas pertimbangan ekonomi dan budaya. Pendukung Pembangunan Berkelanjutan berargumen bahwa konsep ini menyediakan konteks bagi keberlanjutan menyeluruh dimana pemikiran mutakhir dari Pembangunan Hijau sulit diwujudkan. Sebagai contoh, pembangunan pabrik dengan teknologi pengolahan limbah mutakhir yang membutuhkan biaya perawatan tinggi sulit untuk dapat berkelanjutan di wilayah dengan sumber daya keuangan yang terbatas.
Beberapa riset memulai dari definisi ini untuk berargumen bahwa lingkungan merupakan kombinasi dari ala dan budaya. Network of Excellence "Sustainable Development in a Diverse World" SUS.DIV, sponsored by the European Union, bekerja pada jalur ini. Mereka mengintegrasikan kapasitas multidisiplin dan menerjemahkan keragaman budaya sebagai kunci pokok strategi baru bagi pembangunan berkelanjutan.
Beberapa peneliti lain melihat tantangan sosial dan lingkungan sebagai kesempatan bagi kegiatan pembangunan. Hal ini nyata di dalam konsep keberlanjutan usaha yang mengkerangkai kebutuhan global ini sebagai kesempatan bagi perusahaan privat untuk menyediakan solusi inovatif dan kewirausahaan. Pandangan ini sekarang diajarkan pada beberapa sekolah bisnis yang salah satunya dilakukan di Center for Sustainable Global Enterprise at Cornell University.
Divisi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan mendaftar beberapa lingkup berikut ini sebagai bagian dari Pembangunan Berkelanjutan.:[1]
Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang ambigu, dimana pandangan yang luas berada di bawah naungannya. konsep ini memasukkan pemahaman keberlanjutan lemah, keberlanjutan kuat, dan ekolog mendalam. konsep yang berbeda jga menunjukkan tarik ulur yang kuat antara eko(lingkungan)sentrisme dan antropo(manusia)sentrisme. Oleh karena itu konsep ini lemah didefinisikan dan mengundang debat panjang mengenai definisinya.
Selama sepuluh tahun terakhir, lembaga-lembaga yang berbeda telah berusaha mengukur dan memantau perkiraan atas apa yang mereka pahami sebagai keberlanjutan dengan mengimplementasikan apa yang disebut dengan matrik dan indikator keberlanjutan.
Keberlanjutan pembangunan haruslah terus ditingkatkan karena pembangunan itu memang harus dilakukan demi keajuan bangsa ini. Jika tidak terjadi pembangunan maka apa jadinya bangsa ini yang hanya akan ada kemunduran saja> Dengan kemunduran itu hanya akan memudahkan saja bagi bangsa lain untuk dapat menjajah kembali bangsa ini. Tanpa sadar saja sebenarnya bangsa ini secara tidak langsung sudah dijajah namun cara penjajhannya tidak seperti dulu dengan kekerasan namun lewat perekonomian, dll. Oleh karena itu diharapkan agar pemerintah terus melakukan pembangunan-pembangunan demi kemajuan bangsa ini namun pembangunan itu tidaklah juga dapat melanggar hak asasi dari seseorang dan hokum karena banyak orang yang melakukan hal-hal yang tidak baik hanya untuk alasan pembangunan seperti penebangan liar,pemberantasan hama, dll. Jadi pembangunan harus terus berlanjut dan diharpkan pemerintah dapat merealisasikannya serta bagi masyarakat diharapkan dapat membantu sehingga proses pembangunan dapat berjalan dengan lancar.